Selasa, 26 Mei 2026

Refleksi Idul Adha 1447 H / 2026 M Pengorbanan Rakyat Miskin Terhadap Penguasa Dholim


Idul Adha bukan sekadar tentang menyembelih hewan qurban. Bukan hanya tentang daging yang dibagikan, bukan pula sekadar tradisi tahunan yang datang lalu berlalu. Idul Adha adalah momentum besar untuk mengingat kembali makna pengorbanan, keikhlasan, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama manusia.

Hari ini kita hidup di zaman yang penuh ujian. Banyak rakyat kecil semakin sulit menjalani hidup. Harga kebutuhan naik, pekerjaan semakin berat, sementara sebagian orang yang diberi amanah justru sibuk memikirkan kepentingan diri sendiri. Kebijakan dibuat tanpa melihat penderitaan rakyat kecil. Orang yang lemah sering menjadi korban keputusan yang lahir dari meja kekuasaan tanpa hati nurani.

Padahal jabatan dalam Islam bukan kehormatan untuk dibanggakan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hari Raya Idul Adha mengajarkan bahwa pengorbanan sejati bukan mengambil hak orang kecil demi kenyamanan penguasa. Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk berkorban karena ketaatan kepada Allah, bukan demi kepentingan dunia. Sementara hari ini, sering kita melihat rakyat kecil yang justru dikorbankan demi kepentingan kelompok tertentu, demi proyek, demi kekuasaan, demi keuntungan pribadi.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil…”
(QS. Al-Baqarah: 188)

Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa mengambil hak rakyat, menyalahgunakan kekuasaan, mempermainkan amanah, atau membuat kebijakan yang menyengsarakan masyarakat adalah bentuk kezhaliman yang sangat dibenci Allah.

Idul Adha juga mengajarkan tentang kepekaan sosial. Hewan qurban bukan sekadar disembelih lalu dipamerkan di media sosial. Esensi qurban adalah menghadirkan kebahagiaan bagi fakir miskin, bagi mereka yang jarang menikmati makanan layak, bagi mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Allah SWT berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Maka yang Allah lihat bukan besarnya sapi, bukan mahalnya kambing, bukan banyaknya dokumentasi, tetapi ketulusan hati dan keberpihakan kita kepada orang-orang yang lemah.

Ironisnya, di tengah semangat qurban, masih ada pejabat yang hidup bermewah-mewahan sementara rakyatnya kesulitan makan. Masih ada yang mudah menghabiskan anggaran untuk kepentingan pribadi tetapi berat membantu masyarakat kecil. Padahal Rasulullah ﷺ sangat tegas terhadap pemimpin yang menyusahkan rakyatnya. Beliau bersabda:

“Ya Allah, siapa yang mengurus urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang mengurus urusan umatku lalu ia berlaku lembut kepada mereka, maka lembutlah kepada dia.”
(HR. Muslim)

Dakwah Idul Adha tahun ini harus menjadi pengingat bahwa negeri ini tidak akan baik jika kekuasaan kehilangan rasa takut kepada Allah. Jabatan tanpa amanah hanya akan melahirkan kesombongan. Kekuasaan tanpa empati hanya akan melahirkan penderitaan rakyat kecil.

Qurban sejati bukan hanya menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat rakus, egois, tamak, dan cinta dunia yang berlebihan. Para pemimpin seharusnya belajar dari Nabi Ibrahim AS tentang keikhlasan dan ketaatan. Belajar dari Rasulullah ﷺ tentang kepedulian terhadap umat.

Hari ini rakyat kecil tidak butuh janji yang terlalu tinggi. Mereka butuh keadilan. Mereka butuh pemimpin yang mau mendengar. Mereka butuh kebijakan yang melindungi, bukan malah menindas.

Idul Adha mengajarkan bahwa orang kuat harus melindungi yang lemah, yang mampu membantu yang kekurangan, dan yang memiliki jabatan harus menggunakan kekuasaannya untuk kemaslahatan masyarakat. Karena sesungguhnya doa orang yang terzalimi tidak memiliki penghalang di hadapan Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”
(HR. Bukhari)

Semoga Idul Adha tahun ini menjadi momentum muhasabah bagi kita semua. Bagi rakyat agar tetap sabar dan kuat. Bagi orang kaya agar semakin peduli. Dan bagi para pemimpin agar sadar bahwa kekuasaan hanyalah sementara, sedangkan hisab Allah adalah nyata.

Mari jadikan Idul Adha sebagai pengingat bahwa kemuliaan bukan terletak pada jabatan dan harta, tetapi pada ketakwaan, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Karena pada akhirnya, semua yang kita miliki akan kembali kepada Allah SWT.

0 Reviews:

Posting Komentar