Selasa, 30 Juni 2026

CeritaKita Publisher Perdalam Strategi Bisnis Berbasis AI Melalui Business Model Canvas Masterclass di Rumah Kreatif Sleman

FLAYER YANG BEREDAR DI INSTAGRAM RUMAH KREATIF SLEMAN [RKS]

SLEMAN – Di tengah derasnya arus transformasi digital yang terus mengubah pola bisnis dan pemasaran, CeritaKita Publisher berkesempatan mengikuti kegiatan Business Model Canvas Masterclass yang diselenggarakan oleh Rumah Kreatif Sleman (RKS) bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman. Kegiatan yang berlangsung pada 1–2 Juli 2026 di Dekranasda Sleman ini menghadirkan praktisi marketing dan strategi bisnis online, Heru Heryawan, sebagai narasumber utama.

Pelatihan yang diberikan secara gratis bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) tersebut mengangkat tema "Merancang Strategi Bisnis yang Siap Bertumbuh dengan Dukungan Artificial Intelligence (AI)". Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan perkembangan dunia usaha saat ini yang semakin mengandalkan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan daya saing.

Bagi CeritaKita Publisher, kesempatan mengikuti kegiatan ini merupakan sebuah kehormatan sekaligus momentum penting untuk memperluas wawasan dalam mengembangkan bisnis penerbitan di era digital. Perubahan teknologi yang berlangsung begitu cepat menuntut setiap pelaku usaha agar tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus beradaptasi dengan berbagai inovasi yang hadir.

Dalam sesi pelatihan, peserta diajak memahami bagaimana menyusun Business Model Canvas (BMC) secara tepat sebagai dasar membangun strategi bisnis yang berkelanjutan. Tidak hanya membahas sembilan elemen utama dalam BMC, narasumber juga memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence untuk membantu analisis pasar, penyusunan strategi pemasaran, pelayanan pelanggan, hingga pengembangan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta aktif berdiskusi mengenai tantangan yang dihadapi masing-masing usaha, sekaligus mencari solusi melalui pendekatan bisnis modern yang memanfaatkan teknologi digital. Berbagai contoh penerapan AI dalam kegiatan usaha juga diperlihatkan sehingga peserta memperoleh gambaran nyata mengenai manfaat teknologi tersebut.

Perwakilan CeritaKita Publisher menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat diperlukan oleh pelaku usaha, khususnya UMKM dan industri kreatif. Menurutnya, perkembangan digitalisasi tidak lagi dapat dihindari. Dunia usaha bergerak sangat cepat, sementara perilaku konsumen juga terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.

"Perubahan digital bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Jika kita tidak belajar dan mengikuti perkembangannya, maka kita akan tertinggal bahkan bisa 'ditelan' oleh perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, kesempatan belajar seperti ini menjadi bekal yang sangat berharga untuk meningkatkan kualitas usaha," ungkapnya.

Ia menambahkan, Artificial Intelligence kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Teknologi tersebut mampu membantu mempercepat pekerjaan, meningkatkan efisiensi operasional, hingga menghasilkan strategi pemasaran yang lebih efektif. Namun demikian, pemanfaatannya tetap membutuhkan pengetahuan agar dapat digunakan secara bijak dan produktif.

Melalui pelatihan ini, CeritaKita Publisher berharap mampu mengimplementasikan berbagai ilmu yang diperoleh dalam pengembangan usaha, mulai dari penyusunan model bisnis yang lebih terarah, peningkatan kualitas layanan, hingga optimalisasi pemasaran digital berbasis AI.

Kegiatan yang diinisiasi Rumah Kreatif Sleman tersebut juga menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kapasitas pelaku IKM agar mampu bersaing di tengah era ekonomi digital. Dengan menghadirkan pelatihan yang relevan terhadap perkembangan zaman, diharapkan semakin banyak pelaku usaha yang mampu bertransformasi menjadi lebih inovatif, adaptif, dan berdaya saing tinggi.

Bagi CeritaKita Publisher, mengikuti Business Model Canvas Masterclass bukan sekadar menghadiri pelatihan, melainkan investasi ilmu untuk menghadapi masa depan. Sebab di era digital saat ini, kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan memanfaatkan teknologi merupakan kunci utama agar usaha tidak hanya bertahan, tetapi juga terus tumbuh dan berkembang.

Selasa, 26 Mei 2026

Refleksi Idul Adha 1447 H / 2026 M Pengorbanan Rakyat Miskin Terhadap Penguasa Dholim


Idul Adha bukan sekadar tentang menyembelih hewan qurban. Bukan hanya tentang daging yang dibagikan, bukan pula sekadar tradisi tahunan yang datang lalu berlalu. Idul Adha adalah momentum besar untuk mengingat kembali makna pengorbanan, keikhlasan, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama manusia.

Hari ini kita hidup di zaman yang penuh ujian. Banyak rakyat kecil semakin sulit menjalani hidup. Harga kebutuhan naik, pekerjaan semakin berat, sementara sebagian orang yang diberi amanah justru sibuk memikirkan kepentingan diri sendiri. Kebijakan dibuat tanpa melihat penderitaan rakyat kecil. Orang yang lemah sering menjadi korban keputusan yang lahir dari meja kekuasaan tanpa hati nurani.

Padahal jabatan dalam Islam bukan kehormatan untuk dibanggakan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hari Raya Idul Adha mengajarkan bahwa pengorbanan sejati bukan mengambil hak orang kecil demi kenyamanan penguasa. Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk berkorban karena ketaatan kepada Allah, bukan demi kepentingan dunia. Sementara hari ini, sering kita melihat rakyat kecil yang justru dikorbankan demi kepentingan kelompok tertentu, demi proyek, demi kekuasaan, demi keuntungan pribadi.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil…”
(QS. Al-Baqarah: 188)

Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa mengambil hak rakyat, menyalahgunakan kekuasaan, mempermainkan amanah, atau membuat kebijakan yang menyengsarakan masyarakat adalah bentuk kezhaliman yang sangat dibenci Allah.

Idul Adha juga mengajarkan tentang kepekaan sosial. Hewan qurban bukan sekadar disembelih lalu dipamerkan di media sosial. Esensi qurban adalah menghadirkan kebahagiaan bagi fakir miskin, bagi mereka yang jarang menikmati makanan layak, bagi mereka yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Allah SWT berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Maka yang Allah lihat bukan besarnya sapi, bukan mahalnya kambing, bukan banyaknya dokumentasi, tetapi ketulusan hati dan keberpihakan kita kepada orang-orang yang lemah.

Ironisnya, di tengah semangat qurban, masih ada pejabat yang hidup bermewah-mewahan sementara rakyatnya kesulitan makan. Masih ada yang mudah menghabiskan anggaran untuk kepentingan pribadi tetapi berat membantu masyarakat kecil. Padahal Rasulullah ﷺ sangat tegas terhadap pemimpin yang menyusahkan rakyatnya. Beliau bersabda:

“Ya Allah, siapa yang mengurus urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang mengurus urusan umatku lalu ia berlaku lembut kepada mereka, maka lembutlah kepada dia.”
(HR. Muslim)

Dakwah Idul Adha tahun ini harus menjadi pengingat bahwa negeri ini tidak akan baik jika kekuasaan kehilangan rasa takut kepada Allah. Jabatan tanpa amanah hanya akan melahirkan kesombongan. Kekuasaan tanpa empati hanya akan melahirkan penderitaan rakyat kecil.

Qurban sejati bukan hanya menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat rakus, egois, tamak, dan cinta dunia yang berlebihan. Para pemimpin seharusnya belajar dari Nabi Ibrahim AS tentang keikhlasan dan ketaatan. Belajar dari Rasulullah ﷺ tentang kepedulian terhadap umat.

Hari ini rakyat kecil tidak butuh janji yang terlalu tinggi. Mereka butuh keadilan. Mereka butuh pemimpin yang mau mendengar. Mereka butuh kebijakan yang melindungi, bukan malah menindas.

Idul Adha mengajarkan bahwa orang kuat harus melindungi yang lemah, yang mampu membantu yang kekurangan, dan yang memiliki jabatan harus menggunakan kekuasaannya untuk kemaslahatan masyarakat. Karena sesungguhnya doa orang yang terzalimi tidak memiliki penghalang di hadapan Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”
(HR. Bukhari)

Semoga Idul Adha tahun ini menjadi momentum muhasabah bagi kita semua. Bagi rakyat agar tetap sabar dan kuat. Bagi orang kaya agar semakin peduli. Dan bagi para pemimpin agar sadar bahwa kekuasaan hanyalah sementara, sedangkan hisab Allah adalah nyata.

Mari jadikan Idul Adha sebagai pengingat bahwa kemuliaan bukan terletak pada jabatan dan harta, tetapi pada ketakwaan, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Karena pada akhirnya, semua yang kita miliki akan kembali kepada Allah SWT.

Kamis, 21 Mei 2026

LEGALITAS PT PERORANGAN

 




Founder Cerita Kita Publisher Terima Undangan Resmi dari LPM Pabelan UMS untuk Hadiri Temu Alumni

 


Undangan yang disampaikan Kanaya lewat wa admin cerita kita publisher 


SURAKARTA — Founder Cerita Kita Publisher, Latif Safruddin, SE, mendapat kehormatan menerima undangan resmi dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam agenda Temu Alumni LPM Pabelan yang akan digelar pada Sabtu, 23 Mei 2026 di Ruang Micro Lt. 4 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS.

Undangan tersebut disampaikan secara langsung melalui pesan WhatsApp kepada admin Cerita Kita Publisher dengan nama kontak “Kanaya” pada Kamis, 21 Mei 2026. Dalam pesan tersebut, pihak panitia juga mengirimkan file PDF surat undangan resmi atas nama Latif Safruddin, SE sebagai alumni LPM Pabelan.

Kehadiran undangan ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengakuan terhadap perjalanan dan kontribusi alumni dalam dunia literasi, media, serta pengembangan sumber daya manusia di tengah masyarakat. Bagi Latif Safruddin, momentum ini bukan sekadar agenda temu kangen antaralumni, tetapi juga ruang untuk mempererat jejaring intelektual dan membangun semangat kolaborasi lintas generasi.

Dalam surat resmi bernomor 063/PMK/LPM Pabelan/Ext/V/2026 tersebut, panitia menyampaikan bahwa kegiatan Temu Alumni akan berlangsung mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai. Acara dirancang dengan nuansa hangat dan penuh kebersamaan, mulai dari registrasi, pembukaan, tilawah, sambutan, pengenalan kondisi lembaga, simbolik milad, sharing session, hingga foto bersama.

Founder Cerita Kita Publisher, Latif Safruddin, SE, menyampaikan rasa syukur dan bangga atas undangan yang diterimanya. Menurutnya, LPM Pabelan bukan hanya organisasi pers mahasiswa biasa, tetapi menjadi ruang pembelajaran penting yang membentuk karakter kepemimpinan, keberanian berpikir kritis, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.

“Undangan ini menjadi kehormatan tersendiri. LPM Pabelan memiliki sejarah panjang dalam membentuk insan pers kampus yang kritis, kreatif, dan berintegritas. Saya pribadi banyak belajar tentang kepemimpinan, komunikasi, dan perjuangan sejak berada di lingkungan pers mahasiswa,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa kegiatan temu alumni memiliki nilai strategis dalam memperkuat hubungan emosional antarangkatan sekaligus menjadi wadah transfer pengalaman dari alumni senior kepada generasi muda yang masih aktif di organisasi kampus.

Menurut Latif, dunia pers mahasiswa memiliki peran besar dalam menjaga budaya literasi dan daya kritis mahasiswa di tengah derasnya arus informasi digital saat ini. Karena itu, keberadaan forum alumni diharapkan mampu memberikan dukungan moral maupun gagasan bagi keberlanjutan organisasi pers kampus.

Sementara itu, berdasarkan rundown kegiatan yang dibagikan panitia, acara sharing session diperkirakan menjadi salah satu agenda utama yang akan menghadirkan diskusi santai namun penuh inspirasi terkait perjalanan alumni setelah lulus dari dunia kampus. Momen tersebut diyakini akan menjadi ruang refleksi bersama tentang kontribusi alumni di berbagai bidang profesi, mulai dari media, pendidikan, bisnis, sosial, hingga pemberdayaan masyarakat.

Cerita Kita Publisher sendiri selama ini dikenal aktif dalam bidang literasi, publikasi, dan pengembangan konten kreatif berbasis edukasi sosial kemasyarakatan. Kehadiran founder-nya dalam agenda tersebut diharapkan dapat membawa semangat baru bagi mahasiswa aktif maupun alumni lain untuk terus berkarya dan menjaga semangat intelektual.

Temu Alumni LPM Pabelan UMS tahun 2026 pun dipandang bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan simbol kuatnya ikatan kekeluargaan dan dedikasi alumni terhadap perkembangan organisasi. Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, semangat kolaborasi dan silaturahmi antargenerasi menjadi modal penting untuk menjaga eksistensi pers mahasiswa sebagai ruang belajar yang independen dan berintegritas.

Minggu, 17 Mei 2026

Admin Naziya – CeritaKita Publisher Jogja




 ✨ Bersama langkah kecil, lahir karya-karya besar yang menginspirasi.

Perkenalkan, Admin Naziya – CeritaKita Publisher Jogja, sosok muda kreatif yang hadir untuk membantu mewujudkan impian literasi, publikasi, dan media kreatif dengan pelayanan yang ramah, profesional, dan penuh dedikasi. 📚✨

Melalui semangat “Melayani dengan hati, berkarya dengan inspirasi, dan tumbuh bersama literasi”, CeritaKita Publisher terus berkomitmen menjadi ruang terbaik bagi para penulis, pelajar, komunitas, dan masyarakat yang ingin berkembang bersama dunia literasi digital.

📖 Melayani penerbitan buku
🎨 Desain & layout kreatif
📢 Promosi media digital
🤝 Literasi & komunitas inspiratif

Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan karya kami. Karena setiap cerita berharga untuk dibagikan kepada dunia. 🌍✨

📲 Terhubung bersama kami:
📸 IG : @ceritakitapublisher
📘 FB : /ceritakitapublisher
🌐 Website : www.ceritakitapublisher.my.id
💬 WA : +62 858-7897-6277

#CeritaKitaPublisher #AdminNaziya #PublisherJogja #LiterasiIndonesia #PenerbitBuku #MediaKreatif #PenulisIndonesia #DesainKreatif #PromosiDigital #KaryaKitaCeritaDunia

Minggu, 10 Mei 2026

PERJALANAN HIJRAH DARI DUSUN KELET MENUJU MASA DEPAN Kisah Nyata Latif Safruddin Diabadikan dalam Buku “Masa Lalu Masa Depan”

 

Sebuah kisah perjalanan hidup penuh perjuangan, hijrah, dan pencarian makna kehidupan hadir dalam buku berjudul Masa Lalu Masa Depan karya Latif Safruddin. Buku ini menjadi potret nyata perjalanan seorang anak dusun yang berusaha menembus batas kehidupan dengan tekad, doa, dan keyakinan.

Berangkat dari Dusun Kelet, Jepara, Latif Safruddin memulai langkah kecilnya dengan penuh keterbatasan. Namun kehidupan membawanya menempuh perjalanan panjang ke berbagai kota seperti Bandung, Solo, Klaten, hingga Sleman Yogyakarta. Setiap kota menghadirkan cerita, luka, perjuangan, dan pelajaran hidup yang membentuk dirinya hingga hari ini.

Buku ini tidak hanya bercerita tentang perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin seorang manusia yang mencoba memahami arti kehidupan dan hijrah yang sesungguhnya. Pembaca diajak menyelami bagaimana kerasnya perjuangan hidup di tanah perantauan, menghadapi kegagalan, kesendirian, hingga menemukan cahaya harapan di tengah keterbatasan.

Dengan nuansa hitam putih yang kuat pada cover berlatar Gunung Muria, buku ini menggambarkan perjalanan hidup yang sederhana namun penuh makna. Sosok Latif Safruddin hadir sebagai representasi banyak orang yang pernah jatuh, tetapi memilih bangkit dan terus berjalan.

“Dari dusun kecil, langkah panjang menuju ridha-Nya,” menjadi pesan mendalam yang menguatkan isi buku ini. Sebuah kalimat sederhana namun menggambarkan perjalanan spiritual dan perjuangan hidup yang penuh keikhlasan.

Kehadiran buku Masa Lalu Masa Depan diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak menyerah terhadap keadaan. Bahwa masa lalu bukan untuk disesali, melainkan dijadikan pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Buku ini segera hadir melalui penerbit Cerita Kita Publisher dan siap menjadi bacaan reflektif yang menyentuh hati pembaca Indonesia.

DAFTAR ISI

MASA LALU MASA DEPAN

Perjalanan Hidup Penulis

Latif Safruddin


KATA PENGANTAR

UCAPAN TERIMA KASIH

PROLOG

“Langkah Kecil dari Dusun Kelet”


BAB I

AKAR KEHIDUPAN DI DUSUN KELET JEPARA

  1. Lahir dari Kesederhanaan

  2. Kehidupan Keluarga dan Masa Kecil

  3. Belajar Arti Perjuangan

  4. Pendidikan Awal di Kampung Halaman

  5. Tradisi, Doa, dan Nilai Kehidupan


BAB II

MENCARI JALAN HIDUP

  1. Mimpi yang Mulai Tumbuh

  2. Perjalanan Pertama Keluar Kampung

  3. Menantang Ketakutan dan Keraguan

  4. Belajar Mandiri di Tanah Orang

  5. Ujian Kehidupan yang Menguatkan


BAB III

BANDUNG: KOTA PERJUANGAN

  1. Datang dengan Harapan Besar

  2. Bertahan di Tengah Keterbatasan

  3. Persahabatan dan Pelajaran Hidup

  4. Mengenal Dunia yang Lebih Luas

  5. Antara Gagal dan Bangkit Kembali


BAB IV

SOLO: MENEMUKAN MAKNA HIDUP

  1. Kota yang Mengajarkan Kesabaran

  2. Belajar tentang Kesederhanaan

  3. Menjalani Hari dengan Ikhlas

  4. Orang-Orang Baik dalam Perjalanan

  5. Spiritualitas yang Mulai Tumbuh


BAB V

KLATEN: TITIK PERUBAHAN

  1. Langkah Baru dalam Kehidupan

  2. Cobaan yang Datang Bertubi-Tubi

  3. Bertahan dalam Kesunyian

  4. Merenungi Masa Lalu

  5. Hijrah Hati dan Pikiran


BAB VI

SLEMAN YOGJA: PERJALANAN HIJRAH

  1. Menata Ulang Kehidupan

  2. Belajar tentang Keikhlasan

  3. Lingkungan Baru, Semangat Baru

  4. Hijrah Bukan Sekadar Perpindahan

  5. Mendekatkan Diri kepada Allah


BAB VII

MASA LALU DAN MASA DEPAN

  1. Mengenang Luka dan Bahagia

  2. Kesalahan yang Menjadi Pelajaran

  3. Mimpi yang Belum Selesai

  4. Menatap Masa Depan dengan Iman

  5. Menjadi Manusia yang Lebih Baik


BAB VIII

PELAJARAN HIDUP DALAM PERJALANAN

  1. Tentang Kesabaran

  2. Tentang Perjuangan

  3. Tentang Persahabatan

  4. Tentang Keluarga

  5. Tentang Hijrah dan Harapan


EPILOG

“Perjalanan Belum Selesai”

BIODATA PENULIS

DOKUMENTASI PERJALANAN

PENUTUP


Jumat, 08 Mei 2026

Buku Tidak Mahal, Tapi Kehidupan Terlalu Berharga Jika Tidak Dituliskan

 

LATIF SAFRUDDIN
BURUH MASAK DAN MEDSOS

Di banyak rumah, kita sering menemukan lemari penuh pakaian, tumpukan barang lama, bahkan benda-benda yang sudah jarang digunakan. Namun sangat sedikit rumah yang memiliki rak penuh buku tentang kehidupan mereka sendiri.

Padahal setiap keluarga punya cerita.
Setiap desa punya sejarah.
Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang layak diwariskan.

Ironisnya, masyarakat masih sering menganggap menulis buku adalah sesuatu yang mahal, sulit, atau hanya untuk orang terkenal. Padahal jika dipikir secara mendalam, yang jauh lebih mahal sebenarnya adalah ketika pengalaman hidup, perjuangan, sejarah keluarga, nilai budaya, dan perjalanan sebuah desa hilang begitu saja tanpa pernah dituliskan.

Hari ini kita hidup di zaman serba digital. Semua bergerak cepat. Informasi datang dan pergi. Generasi berubah. Tradisi mulai dilupakan. Cerita para orang tua perlahan menghilang karena tidak pernah didokumentasikan.

Dan di situlah buku menjadi sangat penting.

Buku bukan sekadar kertas. Buku adalah penyimpan sejarah manusia.


Setiap Hidup Ada Cerita

Banyak orang berpikir:

“Saya bukan pejabat, bukan tokoh terkenal, bukan profesor. Memangnya hidup saya layak dijadikan buku?”

Jawabannya: sangat layak.

Karena kekuatan sebuah buku bukan selalu tentang siapa yang menulis, tetapi tentang nilai pengalaman yang dibagikan.

Petani punya cerita.
Guru punya cerita.
Pedagang kecil punya cerita.
Perangkat desa punya cerita.
Ibu rumah tangga punya cerita.
Santri punya cerita.
Pelaku UMKM punya cerita.
Bahkan seorang tukang parkir pun punya perjalanan hidup yang bisa menginspirasi ribuan orang.

Masalahnya bukan tidak ada cerita.
Masalahnya adalah banyak cerita besar yang hilang sebelum sempat ditulis.


Jika Satu Desa Dibukukan, 100 Lemari Mungkin Tidak Cukup

Coba bayangkan satu desa saja.

Di dalam satu desa terdapat:

  • sejarah berdirinya kampung,

  • perjuangan para pendiri desa,

  • cerita tokoh masyarakat,

  • kisah pembangunan,

  • tradisi budaya,

  • cerita petani,

  • kisah cinta,

  • konflik sosial,

  • perjuangan ekonomi,

  • sejarah masjid,

  • perjalanan pendidikan,

  • cerita UMKM,

  • tradisi gotong royong,

  • kisah spiritual,

  • cerita anak muda merantau,

  • hingga cerita sederhana yang membentuk kehidupan masyarakat.

Jika semuanya ditulis dengan jujur dan lengkap, mungkin bukan hanya satu buku yang lahir.

Bahkan bisa jadi:

“100 lemari buku pun tidak akan cukup menyimpan seluruh cerita dalam satu desa.”

Karena desa bukan sekadar wilayah administratif. Desa adalah kumpulan kehidupan manusia.

Dan setiap manusia membawa sejarahnya masing-masing.


Fakta: Indonesia Kaya Cerita, Tapi Miskin Dokumentasi

Indonesia memiliki lebih dari 74.000 desa. Setiap desa memiliki sejarah, budaya, bahasa, dan karakter masyarakat yang berbeda.

Namun berapa banyak yang benar-benar terdokumentasikan dalam bentuk buku?

Sangat sedikit.

Akibatnya:

  • banyak sejarah lokal hilang,

  • kisah tokoh desa tidak dikenal,

  • budaya perlahan terlupakan,

  • generasi muda kehilangan akar cerita,

  • dan pengalaman hidup masyarakat hanya berhenti sebagai obrolan lisan.

Padahal negara maju menjaga sejarah mereka melalui dokumentasi, arsip, dan literasi.

Mereka memahami satu hal penting:

Bangsa besar bukan hanya membangun gedung, tetapi juga menulis sejarahnya sendiri.


Buku Bukan Lagi Kebutuhan Elit

Dulu mungkin buku dianggap mahal. Namun hari ini biaya membuat buku jauh lebih murah dibanding kehilangan sejarah hidup.

Orang bisa menghabiskan:

  • jutaan rupiah untuk gadget,

  • puluhan juta untuk kendaraan,

  • ratusan ribu untuk hiburan sesaat,

tetapi masih ragu menulis buku yang bisa diwariskan seumur hidup.

Padahal buku memiliki nilai jangka panjang:

  • menjadi warisan keluarga,

  • membangun personal branding,

  • menyimpan sejarah,

  • menginspirasi generasi berikutnya,

  • bahkan bisa menjadi sumber penghasilan.

Satu buku bisa dibaca puluhan tahun.
Satu cerita bisa mengubah kehidupan orang lain.


Menulis Buku Adalah Bentuk Keberanian

Tidak semua orang berani menuliskan hidupnya.

Karena menulis buku berarti:

  • jujur pada perjalanan hidup,

  • membuka pengalaman,

  • membagikan pelajaran,

  • dan meninggalkan jejak pemikiran untuk masa depan.

Itulah sebabnya buku selalu memiliki nilai yang lebih dalam dibanding sekadar konten media sosial yang hilang dalam hitungan detik.

Buku bertahan lebih lama.
Buku menyimpan emosi.
Buku menjaga sejarah manusia.


Cerita Kita Publisher dan Gerakan Menulis Kehidupan

Melalui Cerita Kita Publisher, semangat menulis bukan hanya ditujukan untuk penulis terkenal atau akademisi, tetapi untuk masyarakat luas.

Karena kami percaya:

Semua orang punya cerita yang layak ditulis.

Kami ingin lebih banyak:

  • tokoh desa,

  • pelaku UMKM,

  • guru,

  • santri,

  • petani,

  • perangkat desa,

  • komunitas,

  • hingga keluarga biasa,

mulai mendokumentasikan perjalanan hidup mereka dalam bentuk buku.

Sebab ketika satu generasi tidak menulis, maka generasi berikutnya akan kehilangan banyak pelajaran hidup.


Buku Adalah Investasi Peradaban

Hari ini mungkin seseorang hanya melihat buku sebagai benda biasa.

Namun puluhan tahun kemudian, buku itu bisa menjadi:

  • sumber sejarah,

  • bahan penelitian,

  • inspirasi generasi muda,

  • bukti perjuangan,

  • hingga warisan keluarga yang tidak ternilai.

Bayangkan jika para orang tua dulu menuliskan perjuangan hidup mereka.
Bayangkan jika sejarah desa terdokumentasi lengkap.
Bayangkan jika setiap perjalanan masyarakat disimpan dalam buku.

Maka generasi hari ini tidak akan kehilangan akar cerita mereka.


Penutup

Buku memang tidak mahal.
Tetapi nilai kehidupan di dalamnya sangat berharga.

Karena setiap hidup adalah cerita.
Dan setiap cerita layak untuk diwariskan.

Jangan biarkan pengalaman hidup hilang tanpa jejak.
Jangan biarkan sejarah desa hilang ditelan zaman.
Jangan biarkan perjuangan orang-orang baik berhenti hanya sebagai cerita lisan.

Tuliskan. Dokumentasikan. Wariskan.

Karena suatu hari nanti, anak cucu kita mungkin akan mengenal sejarah hidup kita bukan dari ingatan orang lain — tetapi dari buku yang kita tinggalkan.

Dari Tukang Parkir hingga Pengusaha Kuliner, Latif Safruddin Tuangkan Kisah Inspiratif dalam Buku Dapur Barokah Sleman

 


SLEMAN — Kisah perjuangan hidup yang penuh ketekunan, kegigihan, dan nilai keberkahan dituangkan Latif Safruddin dalam buku berjudul Dapur Barokah Sleman. Buku tersebut menjadi salah satu karya inspiratif yang menceritakan perjalanan nyata dari kehidupan sederhana hingga berhasil membangun usaha kuliner online yang berkembang di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berbeda dari buku motivasi pada umumnya, Dapur Barokah Sleman hadir dengan pendekatan yang lebih dekat dengan realitas masyarakat. Buku ini mengangkat perjalanan hidup penulis yang dimulai dari berbagai pekerjaan sederhana, menghadapi keterbatasan ekonomi, hingga perjuangan membangun usaha kuliner dengan penuh kesabaran dan kerja keras.

Latif Safruddin mengatakan buku tersebut lahir dari pengalaman hidup nyata yang ingin dibagikan kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang sedang merintis usaha atau menghadapi tantangan kehidupan.

“Setiap perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Saya ingin buku ini menjadi penyemangat bahwa siapa pun bisa bangkit selama mau berusaha dan tidak menyerah,” ujarnya.

Dalam buku tersebut, pembaca diajak memahami bagaimana proses perjuangan tidak selalu berjalan mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari keterbatasan modal, tekanan ekonomi, hingga proses membangun kepercayaan pelanggan di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin berkembang.

Namun di balik cerita perjuangan bisnis, buku ini juga banyak mengangkat nilai kehidupan, spiritualitas, dan pentingnya menjaga keberkahan dalam usaha. Penulis menekankan bahwa kesuksesan bukan hanya tentang keuntungan materi, tetapi juga tentang manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Buku Dapur Barokah Sleman juga memuat berbagai pengalaman pribadi tentang bagaimana membangun usaha dengan prinsip kejujuran, pelayanan yang baik, serta menjaga hubungan sosial dengan masyarakat sekitar.

Selain membahas perjalanan usaha, buku ini turut menghadirkan motivasi bagi generasi muda agar lebih berani memulai usaha dan tidak takut menghadapi kegagalan.

“Kegagalan bukan akhir perjalanan, tetapi bagian dari proses belajar menuju keberhasilan,” tulis Latif Safruddin dalam salah satu bagian bukunya.

Kehadiran buku ini mendapat perhatian dari berbagai kalangan karena dinilai mampu memberikan inspirasi melalui cerita yang sederhana namun penuh makna. Gaya bahasa yang ringan dan komunikatif membuat buku tersebut mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai usia.

Buku Dapur Barokah Sleman diterbitkan melalui kerja sama bersama Cerita Kita Publisher di bawah naungan PT WEB DIGITAL MARKETING. Proses penerbitan dilakukan secara profesional mulai dari penyusunan konsep, editing, desain, hingga distribusi dalam bentuk buku cetak dan e-book digital.

Cerita Kita Publisher menyebut karya tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk menghadirkan buku-buku inspiratif yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan mampu memberikan dampak positif bagi pembaca.

Selain tersedia dalam bentuk cetak, buku ini juga dirilis dalam format digital untuk memudahkan akses pembaca di era modern.

Melalui buku tersebut, Latif Safruddin berharap kisah perjuangan yang ditulisnya dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk tetap semangat menghadapi kehidupan dan terus berusaha meraih masa depan yang lebih baik.

Buku Dapur Barokah Sleman kini mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan literasi, promosi digital, hingga agenda diskusi dan bedah buku yang melibatkan komunitas pembaca dan pelaku usaha muda.

Dengan pesan tentang perjuangan, keberanian, dan keberkahan hidup, buku ini diharapkan mampu menjadi salah satu bacaan inspiratif yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.